Kabarniaga.com – Niagawan, kemudahan akses pinjaman online atau pinjol memang kerap menjadi jalan pintas saat kondisi keuangan sedang terdesak. Proses cepat, tanpa jaminan, dan bisa diakses hanya lewat ponsel membuat layanan ini terlihat sangat membantu.
Namun di balik kemudahannya, penggunaan pinjol secara berulang tanpa perencanaan dapat menimbulkan masalah baru. Bukan hanya soal utang yang membengkak, tetapi juga perubahan perilaku dan kondisi psikologis yang kerap tidak disadari.
Data penggunaan pinjaman digital di Indonesia menunjukkan tren peningkatan dari tahun ke tahun. Generasi produktif seperti milenial dan Gen Z menjadi kelompok paling dominan menggunakan layanan ini. Kondisi tersebut menandakan bahwa ketergantungan terhadap pinjol bisa terjadi pada siapa saja, termasuk di lingkungan terdekat kita.
Lantas, bagaimana cara mengenali tanda-tanda awal seseorang mulai kecanduan pinjol?
Tanda-Tanda Ketergantungan Pinjaman Online
Psikolog Meity Arianty, STP., M.Psi menjelaskan bahwa ketergantungan terhadap pinjol bukan sekadar persoalan finansial, melainkan berkaitan erat dengan cara seseorang merespons tekanan hidup dan kecemasan. Berikut beberapa ciri yang patut diwaspadai.
1. Muncul Rasa Gelisah Saat Tidak Bisa Mengajukan Pinjaman
Niagawan, salah satu sinyal awal adalah munculnya rasa tidak tenang ketika akses pinjaman terhambat, misalnya karena limit habis atau pengajuan ditolak. Dalam kondisi ini, pinjol tidak lagi dipandang sebagai alat bantu, melainkan sumber rasa aman secara emosional.
Ketika akses tersebut tertutup, kecemasan pun meningkat dan memengaruhi kondisi mental.
2. Menggunakan Pinjaman Baru untuk Menutup Utang Lama
Pola “gali lubang tutup lubang” menjadi ciri klasik ketergantungan pinjol. Seseorang terus mengambil pinjaman baru hanya untuk membayar kewajiban sebelumnya, tanpa solusi jangka panjang.
Fokus utama bukan lagi penyelesaian utang, melainkan mengejar rasa lega sesaat yang justru memperpanjang masalah keuangan.
3. Tetap Meminjam Meski Paham Risikonya
Ketika seseorang tetap menggunakan pinjol walau sadar bunga tinggi dan risiko penagihan yang agresif, ini menandakan dorongan emosional sudah mengalahkan pertimbangan logis.
Perilaku ini mirip dengan bentuk adiksi lain, di mana kenyamanan sementara dianggap lebih penting daripada dampak jangka panjang yang merugikan.
4. Menyembunyikan Utang dari Keluarga atau Pasangan
Niagawan, kecenderungan menutup-nutupi penggunaan pinjol dari orang terdekat juga menjadi tanda serius. Rasa malu atau takut dihakimi membuat seseorang memilih diam, padahal sikap ini justru memperparah kondisi.
Tanpa dukungan lingkungan terdekat, masalah keuangan dan tekanan mental akan semakin sulit dikendalikan.
5. Gangguan Tidur dan Emosi yang Tidak Stabil
Tekanan akibat utang pinjol sering berdampak pada kondisi fisik dan mental. Sulit tidur, mudah marah, sulit fokus, hingga perubahan suasana hati yang drastis menjadi keluhan umum.
Jika berlangsung lama, kondisi ini dapat menurunkan produktivitas kerja serta merusak hubungan sosial.
6. Menganggap Pinjol Sebagai Satu-Satunya Jalan Keluar
Ciri paling mengkhawatirkan adalah ketika seseorang merasa tidak memiliki pilihan lain selain terus meminjam. Perasaan terjebak dan tidak berdaya ini membuat ketergantungan semakin kuat, meskipun disadari bahwa kondisi keuangan justru makin memburuk.
Langkah Menghentikan Ketergantungan Pinjol
Niagawan, kabar baiknya, ketergantungan pinjol bukan kondisi yang tidak bisa diatasi. Ada beberapa langkah realistis yang dapat dilakukan.
1. Kenali Alasan Sebenarnya Menggunakan Pinjol
Coba jujur pada diri sendiri: apakah pinjol digunakan untuk kebutuhan mendesak, atau sekadar untuk meredakan stres dan kecemasan? Kesadaran ini penting sebagai langkah awal perubahan.
2. Susun Perencanaan Keuangan yang Masuk Akal
Membuat anggaran keuangan yang jelas dan realistis membantu mengendalikan pengeluaran. Tentukan prioritas dan hindari pinjaman baru kecuali dalam kondisi benar-benar darurat.
3. Libatkan Orang Terdekat
Berbagi cerita dengan keluarga atau sahabat dapat meringankan beban psikologis. Dukungan sosial sering kali menjadi kunci penting dalam memutus siklus utang dan tekanan mental.
4. Konsultasi dengan Profesional
Jika kecemasan dan stres sudah mengganggu aktivitas sehari-hari, mencari bantuan psikolog atau konselor keuangan adalah langkah bijak. Pendampingan profesional membantu membangun pola pikir yang lebih sehat dalam menghadapi masalah finansial.
Ketergantungan terhadap pinjaman online dapat diatasi dengan kesadaran, dukungan, dan perubahan kebiasaan. Dengan langkah yang tepat, Niagawan tetap bisa menjaga kesehatan mental sekaligus kondisi keuangan agar kembali stabil.












Komentar 1