Niagawan, siapa sangka sebuah usaha kuliner legendaris yang kini memiliki ratusan cabang, dulunya berawal dari gerobak sederhana di pinggir jalan? Kisah ini datang dari Bustaman, sosok perantau Minang yang berhasil mengubah keterbatasan hidup menjadi kekuatan untuk membangun jaringan Rumah Makan Padang Sederhana yang dikenal hingga mancanegara.
Saat bepergian ke berbagai daerah, bahkan ke luar negeri, kuliner khas Indonesia yang hampir selalu ditemui adalah masakan Padang. Dari sekian banyak merek rumah makan Minang, nama RM Padang Sederhana Masakan Padang menjadi salah satu yang paling ikonik dan melekat di benak masyarakat.
Popularitas merek ini bukan hanya menghadirkan keuntungan bisnis yang besar, tetapi juga sempat memicu sengketa hukum terkait kepemilikan nama dagang. Setelah melalui proses hukum panjang, Mahkamah Agung akhirnya menetapkan bahwa merek RM Sederhana Masakan Padang adalah milik pendiri aslinya, Bustaman.
Bustaman: Anak Kampung dengan Jalan Hidup Terjal
Bustaman lahir di Tanah Datar, Sumatra Barat, pada 11 September 1942. Hidupnya sejak kecil tidak pernah mudah. Ia hanya mengenyam pendidikan hingga tingkat Sekolah Dasar, bukan karena kurangnya kemauan, melainkan karena keadaan ekonomi keluarga yang sangat terbatas.
Cobaan hidup datang silih berganti. Di usia enam tahun, Bustaman kehilangan ibunya. Tak lama berselang, sang ayah menikah lagi dan meninggalkan Bustaman bersama saudara-saudaranya di kampung Lintau Buo. Tanpa orang tua dan dukungan finansial, mereka harus bekerja serabutan demi bertahan hidup.
Musibah longsor yang meratakan tempat tinggal mereka semakin memperberat keadaan. Hingga akhirnya pada 1954, sang ayah kembali dan mengajak Bustaman merantau ke Riau. Di usia 12 tahun, Bustaman sudah harus bekerja sebagai petani karet di tengah hutan tropis.
Setahun kemudian, ia kembali merantau ke Jambi dan bekerja sebagai kernet angkutan umum. Di sanalah naluri bisnisnya mulai tumbuh. Melihat kebiasaan para pekerja yang tak lepas dari rokok, Bustaman memberanikan diri berhenti dari pekerjaannya dan berjualan rokok.
Keputusan itu sempat membawanya pada kehidupan yang lebih baik. Namun konflik sosial di Jambi memaksanya meninggalkan usaha yang sudah berjalan dengan baik.
Belajar Bisnis dari Dapur Warung Padang
Tak ingin larut dalam kegagalan, Bustaman kembali bangkit. Pada awal 1960-an, ia bekerja di sebuah warung makan Padang milik kerabat. Dari sinilah perjalanan barunya di dunia kuliner dimulai.
Bustaman menjalani semua pekerjaan tanpa pilih-pilih: mencuci piring, memasak di dapur, melayani pelanggan, hingga belanja bahan ke pasar. Meski berat, ia menjadikan semua itu sebagai “sekolah bisnis” yang tak ternilai.
Pengalaman tersebut menjadi bekal penting ketika ia memutuskan merantau ke Jakarta. Awalnya, ia kembali berjualan rokok. Namun kehidupan sebagai pedagang kaki lima di ibu kota penuh tantangan—kejar-kejaran dengan Satpol PP dan tekanan dari preman menjadi makanan sehari-hari.
Situasi itulah yang mendorong Bustaman mencari usaha yang lebih stabil.
Gerobak di Trotoar Benhil Jadi Titik Balik
Pada 1972, Bustaman memulai langkah besar. Dengan sebuah gerobak sederhana, ia menjual masakan Padang di trotoar kawasan Bendungan Hilir (Benhil), tepat di samping selokan. Tempatnya jauh dari kata ideal, namun rasa masakannya berhasil mencuri hati para pekerja kantoran di sekitar lokasi.
Warung kecil itu diberi nama Rumah Makan Sederhana.
Karena berjualan di area terlarang, gerobaknya sempat disita. Peristiwa ini justru menjadi titik balik. Bustaman memberanikan diri menyewa tempat permanen di kawasan Benhil. Meski sempat khawatir kehilangan pelanggan, kekhawatiran itu terbukti tidak beralasan.
Pelanggan justru semakin ramai, penjualan meningkat, dan masakan selalu habis dalam waktu singkat.
Ekspansi, Standarisasi, dan Lahirnya Merek Legendaris
Kesuksesan di Benhil mendorong Bustaman membuka cabang baru, seperti RM Singgalang Jaya di Roxy (1975) dan RM Sederhana di Pasar Sunan Giri (1978). Lokasi strategis dan kualitas rasa yang konsisten membuat semua cabangnya berkembang pesat.
Berbeda dari rumah makan Padang pada umumnya, Bustaman menerapkan standar baru: ruko besar, bersih, nyaman, dan mampu menampung minimal 60 pengunjung. Strategi ini berhasil menarik segmen kelas menengah ke atas.
Setelah hampir satu dekade menggunakan beberapa nama usaha, Bustaman akhirnya menyatukan seluruh cabangnya dengan satu identitas: RM Padang Sederhana Masakan Padang. Pada 1997, merek “Sederhana” resmi dipatenkan.
Untuk mempercepat ekspansi, Bustaman memilih sistem waralaba berbasis kemitraan bagi hasil, bukan jual putus. Tujuannya sederhana namun visioner: agar setiap mitra merasa memiliki dan bertanggung jawab penuh terhadap keberhasilan restorannya.
Hingga kini, RM Sederhana Masakan Padang tercatat memiliki lebih dari 200 cabang yang tersebar di Indonesia dan negara tetangga.
Sengketa Nama “Sederhana” dan Kepastian Hukum
Niagawan, perjalanan bisnis besar tentu tak selalu mulus. Pada 2014, nama “Sederhana” sempat menjadi sengketa hukum. Bustaman dan Djamilus Djamil diketahui pernah menjadi rekan bisnis sebelum akhirnya berpisah dan menjalankan usaha masing-masing.
Djamilus menggunakan nama RM Sederhana Bintaro (SB), sementara Bustaman tetap menggunakan RM Sederhana. Demi menghindari kebingungan publik, pihak Bustaman meminta agar penggunaan kata “Sederhana” dibedakan.
Persoalan ini akhirnya diselesaikan melalui jalur hukum. Mahkamah Agung memutuskan bahwa hak atas merek RM Sederhana Masakan Padang secara sah berada di tangan Bustaman sebagai pendiri asli.
Pelajaran Halalpreneur dari Bustaman
Kisah Bustaman adalah cermin nyata bahwa bisnis halal tidak hanya soal produk, tetapi juga soal ketekunan, integritas, dan keberanian mengambil risiko. Dari trotoar kotor hingga jaringan restoran raksasa, semuanya dibangun dengan kerja keras dan konsistensi.
Bagi para Niagawan yang sedang merintis usaha halal, perjalanan Bustaman membuktikan bahwa keterbatasan bukan penghalang, melainkan fondasi untuk tumbuh lebih kuat.











