Ciamis, Kabarniaga.com –
Niagawan, geliat ekonomi kreatif di Kabupaten Ciamis kembali menunjukkan hasil membanggakan. Sebuah usaha mikro berbasis produk akrilik yang berlokasi di Dusun Guha, Desa Handapherang, Kecamatan Cijeungjing, sukses menembus pasar internasional dan menyerap belasan tenaga kerja lokal.
Usaha yang dirintis oleh Fauzi Ramdani ini berfokus pada produksi aneka cendera mata berbahan akrilik. Berawal dari kepemilikan satu unit mesin laser sederhana, bisnis tersebut kini berkembang pesat dengan lima unit mesin produksi dan melibatkan sekitar 13 pekerja aktif, mayoritas berasal dari kalangan pemuda desa.
Pada tahap awal, Fauzi hanya memproduksi gantungan kunci sebagai produk utama. Namun seiring meningkatnya permintaan pasar, lini produk terus diperluas. Saat ini, usahanya melayani pembuatan plakat, piala, label produk, hingga nomor rumah berbahan akrilik yang disesuaikan dengan kebutuhan konsumen.
Lonjakan pesanan mulai terasa setelah pemasaran dilakukan secara digital melalui platform e-commerce. Dalam hitungan bulan, jangkauan distribusi produk tidak hanya merambah berbagai daerah di Indonesia seperti Jawa Tengah, Aceh, hingga Papua, tetapi juga berhasil menjangkau pembeli dari Malaysia dan Singapura.
Menurut Fauzi, kunci pertumbuhan usahanya terletak pada keberanian memulai, konsistensi kualitas produk, serta pemanfaatan teknologi. Dari usaha ini, omzet bulanan yang dihasilkan dapat mencapai kisaran Rp70 juta hingga Rp80 juta per bulan, tergantung volume pesanan.
Permintaan terbesar datang dari sektor konveksi dan industri kreatif, khususnya produsen hijab yang membutuhkan label dan aksesori berbahan akrilik. Meski demikian, tantangan teknis seperti gangguan mesin produksi kerap terjadi. Beruntung, ketersediaan teknisi lokal menjadi solusi cepat agar proses produksi tetap berjalan.
Kepala Desa Handapherang, Tantan Sontani, menyampaikan apresiasi atas kontribusi pelaku UMKM muda dalam menggerakkan perekonomian desa. Ia menilai kehadiran usaha kreatif ini tidak hanya membuka lapangan kerja, tetapi juga menjadi contoh nyata kemandirian ekonomi berbasis potensi lokal.
Pemerintah desa, lanjutnya, berkomitmen untuk terus memberikan dukungan dan pendampingan, termasuk membuka peluang fasilitasi permodalan melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) agar usaha serupa dapat tumbuh lebih besar dan berkelanjutan.
Niagawan, kisah UMKM akrilik dari Ciamis ini membuktikan bahwa peluang usaha bisa lahir dari desa dan menembus pasar global. Dengan inovasi, pemanfaatan teknologi, serta ketekunan dalam menjalankan bisnis, potensi ekonomi kreatif dapat menjadi motor penggerak kesejahteraan masyarakat.
Semoga cerita ini menjadi inspirasi bagi niagawan untuk berani memulai usaha, mengembangkan ide, dan melihat tantangan sebagai bagian dari proses menuju kesuksesan.











