GORONTALO | KabarNiaga.com – Saat pesawat mendarat di Bandara Djalaludin Gorontalo, hamparan hijau ladang jagung dan kebun kelapa langsung menyambut pandangan. Lanskap ini bukan hanya menawan secara visual, tetapi juga mencerminkan kekuatan ekonomi agraris Provinsi Gorontalo, khususnya di sektor perkebunan kelapa dan pertanian jagung.
Dengan luas kebun kelapa mencapai 70.000 hektar, Gorontalo menjadi salah satu penghasil kelapa terbesar di Indonesia. Namun keunikan utama bukan sekadar pada skala luasnya, melainkan pada pola tumpangsari kelapa dan jagung yang menjadi andalan para petani lokal.
Tumpangsari Kelapa-Jagung: Inovasi Lokal, Dampak Global
“Kelapa dan jagung kami tanam berdampingan. Ini bukan hanya strategi memaksimalkan lahan, tetapi juga mengatur ritme panen agar petani mendapatkan hasil berkelanjutan,” jelas Mulyadi Mario, Kepala Dinas Pertanian Provinsi Gorontalo, saat ditemui di Pusat Logistik Berikat PT Trans Continent, Rabu (18/6/2025).
Model tumpangsari ini terbukti efektif. Kelapa dipanen setiap tiga bulan, sedangkan jagung yang memiliki masa tanam serupa berperan sebagai penyeimbang ekonomi petani. Seperti orkestra agraria, kelapa menjulang dan jagung mengisi ruang di bawahnya, menghasilkan duet pertanian yang harmonis dan efisien.
Kelapa Dalam Gorontalo: Tahan Lama dan Bernilai Ekonomis Tinggi
Gorontalo mengandalkan varietas lokal, kelapa dalam, yang produktif hingga usia 30 tahun, bahkan ada yang tetap berbuah sampai 70 tahun. Dalam satu musim, satu pohon bisa menghasilkan rata-rata 30 butir kelapa. Pemerintah provinsi pun terus menjalankan program peremajaan kebun kelapa, menjaga kesinambungan produksi sekaligus kualitas hasil.
Ekspor Produk Olahan Kelapa: Santan, Minyak, hingga Briket Tempurung
Nilai ekonomi kelapa Gorontalo semakin besar dengan hadirnya industri pengolahan. Tak hanya dijual sebagai buah mentah, kelapa diolah menjadi santan, minyak kelapa, hingga briket tempurung, yang kini telah menjadi komoditas ekspor unggulan.
Gorontalo menandai tonggak sejarah baru pada Kamis (19/6/2025), dengan ekspor perdana santan kelapa langsung ke China melalui Pusat Logistik Berikat Trans Continent. Ekspor dilepas secara simbolis oleh Gubernur dan Wakil Gubernur Gorontalo dengan tradisi pecah kendi.
Kolaborasi Strategis: Pemerintah dan Investor Majukan Ekspor Gorontalo
Gerakan ekspor ini didukung oleh Trans Continent, perusahaan logistik nasional yang kini beroperasi di Gorontalo. CEO Trans Continent, Ismail Rasyid, menyatakan siap berkolaborasi demi kemajuan daerah.
“Kami datang membawa solusi dan semangat kolaborasi. Gorontalo punya potensi alam yang luar biasa dan kami ingin jadi bagian dari pertumbuhannya,” ujar Ismail, pengusaha asal Aceh Utara yang mulai masuk ke Gorontalo sejak 2024.
Tantangan dan Harapan: Kekurangan Pemetik dan Kearifan Lokal yang Terus Bertahan
Meski pertumbuhan pesat, sektor kelapa Gorontalo masih menghadapi tantangan klasik: kekurangan tenaga pemetik kelapa. Meski demikian, masyarakat tetap menjaga produktivitas kebun dengan pengetahuan lokal yang diwariskan turun-temurun.
Dari kelapa yang menjulang hingga jagung yang merunduk, Gorontalo mengajarkan bahwa pertanian berkelanjutan bisa dibangun dari kearifan lokal, jika didukung strategi tepat dan kolaborasi nyata.











