CIREBON, Kabarniaga.com – Kabar baik datang bagi dunia ketenagakerjaan di Kabupaten Cirebon. Sebanyak 77 warga resmi diberangkatkan ke Jepang untuk bekerja di sektor industri manufaktur dan perakitan elektronik. Program ini menjadi jawaban atas keterbatasan lapangan kerja lokal yang selama ini menjadi masalah serius di wilayah tersebut.
Wakil Bupati Cirebon, Agus Kurniawan Budiman, menuturkan bahwa keberangkatan para pekerja ini tidaklah instan, melainkan hasil seleksi ketat dari 1.044 pendaftar yang berasal dari hampir seluruh kecamatan.
“Kami tidak bisa menutup mata. Lapangan kerja di daerah masih terbatas, sementara kebutuhan masyarakat untuk penghasilan terus meningkat. Kesempatan bekerja ke Jepang ini harus dimanfaatkan dengan maksimal oleh warga Cirebon,” ujar Agus.
Jepang Kekurangan Tenaga Kerja, Cirebon Punya Potensi
Langkah Pemkab Cirebon sejalan dengan tingginya kebutuhan tenaga kerja di Jepang. Data menunjukkan, Negeri Sakura saat ini mengalami kekurangan sekitar 820 ribu pekerja asing di berbagai sektor, terutama manufaktur dan elektronik.
Agus menyebut peluang ini sangat besar bagi Indonesia, khususnya warga Cirebon. “Jepang membutuhkan SDM, sementara kita punya tenaga kerja usia produktif yang melimpah. Sinergi ini harus dimanfaatkan agar masyarakat tidak hanya terpaku pada lapangan kerja di dalam negeri,” jelasnya.
Pelatihan Intensif Sebelum Diberangkatkan
Para pekerja yang diberangkatkan akan menandatangani kontrak kerja selama tiga tahun. Agar bisa beradaptasi dengan cepat, Pemkab Cirebon mewajibkan calon pekerja mengikuti pelatihan intensif selama tiga bulan.
Materi pelatihan mencakup:
-
Peningkatan keterampilan teknis.
-
Penguasaan bahasa Jepang tingkat dasar.
-
Pemahaman budaya, etika, dan disiplin kerja khas Jepang.
“Kami tidak ingin warga Cirebon hanya sekadar mengisi kekosongan tenaga kerja, tapi juga benar-benar siap menghadapi tuntutan kerja di Jepang. Disiplin, kejujuran, dan etos kerja tinggi harus dipelajari sejak awal,” kata Agus.
Efek Domino untuk Perekonomian Daerah
Selain mengurangi angka pengangguran, keberangkatan pekerja ke Jepang ini diharapkan memberikan efek domino bagi perekonomian lokal. Uang hasil kerja di Jepang yang dikirim ke tanah air (remitansi) akan membantu keluarga, sekaligus membuka peluang usaha baru.
“Kalau mereka berhasil, hasil kerja kerasnya akan kembali ke Cirebon. Bisa untuk kebutuhan keluarga, pendidikan anak, bahkan investasi kecil. Ini akan berdampak positif bagi perekonomian daerah,” ungkap Agus.
Tantangan dan Harapan ke Depan
Meski begitu, Agus mengingatkan adanya sejumlah tantangan yang harus dihadapi, mulai dari perbedaan budaya, keterbatasan bahasa, hingga standar kerja Jepang yang terkenal ketat. Namun, ia yakin warga Cirebon bisa menyesuaikan diri.
“Kita harus realistis. Jepang punya standar tinggi, tapi kalau serius belajar, saya yakin mereka mampu. Justru ini kesempatan untuk membuktikan kualitas SDM Cirebon,” ujarnya.
Agus menambahkan, Pemkab Cirebon akan terus memberikan pendampingan dan memastikan seluruh pekerja terlindungi secara hukum. Ia juga berharap para pekerja bisa pulang dengan membawa bekal lebih dari sekadar uang.
“Kami ingin mereka kembali dengan keterampilan baru, mental disiplin, dan wawasan global. Itu modal penting untuk membangun Cirebon lebih maju,” pungkasnya.











