Industri makanan dan minuman di Indonesia telah lama menjadi ladang subur bagi lahirnya para pengusaha sukses. Bagi para Niagawan, sektor ini kerap dipandang sebagai salah satu pintu masuk paling realistis untuk membangun usaha berkelanjutan. Banyak di antara mereka yang memulai usaha dari kondisi serba terbatas, mengandalkan keberanian, kreativitas, dan kerja keras hingga akhirnya mampu membangun bisnis kuliner dan pangan berskala besar.
Sektor makanan dan minuman dikenal relatif mudah dimasuki oleh pelaku UMKM karena dapat dirintis dengan modal kecil, namun memiliki potensi pasar yang sangat luas. Tak hanya menopang usaha kecil, industri ini juga berkontribusi besar terhadap perekonomian nasional. Data Kementerian Perindustrian menunjukkan bahwa industri makanan dan minuman menjadi salah satu penyumbang terbesar Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, dengan kontribusi lebih dari 40 persen.
Hal tersebut menegaskan bahwa pelaku usaha di bidang pangan—baik pedagang kecil maupun pemilik jaringan restoran besar—memiliki peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Berikut ini, Niagawan dapat menyimak sejumlah kisah inspiratif pengusaha makanan di Tanah Air yang membangun bisnisnya dari nol hingga meraih kesuksesan.
1. H. Abu Bakar – Abuba Steak
Abu Bakar adalah pendiri Abuba Steak, jaringan restoran steak lokal yang mulai beroperasi pada awal 1990-an di kawasan Kemang, Jakarta Selatan. Lahir dari keluarga sederhana dan hanya mengenyam pendidikan hingga bangku sekolah dasar, Abu Bakar merantau ke Jakarta untuk mencari penghidupan.
Ia pernah menjalani berbagai pekerjaan kasar, mulai dari kuli bangunan hingga buruh harian, sebelum akhirnya bekerja di sektor perhotelan dan makanan. Dari sanalah ia mulai mengenal menu-menu Barat, termasuk steak.
Melihat peluang, Abu Bakar mencoba menghadirkan menu steak dengan konsep yang lebih sederhana dan terjangkau. Berawal dari warung tenda bermodal kecil, usahanya perlahan berkembang. Kini, Abuba Steak telah memiliki puluhan cabang di berbagai kota besar di Indonesia.
2. Sukyatno Nugroho – Es Teler 77
Sukyatno Nugroho bukanlah lulusan perguruan tinggi. Ia hanya menamatkan pendidikan hingga tingkat SMP karena keterbatasan ekonomi keluarga. Untuk bertahan hidup, ia membantu pamannya berdagang barang elektronik.
Sempat merasakan masa kejayaan sebagai pedagang elektronik, bisnisnya kemudian terpuruk dan membuatnya terjerat utang. Dari titik terendah itulah Sukyatno bangkit kembali.
Dengan modal terbatas dan resep es teler dari keluarga, ia membuka gerai kecil di kawasan Duta Merlin, Jakarta Pusat. Usahanya mendapat sambutan positif, hingga akhirnya berkembang melalui sistem waralaba. Saat ini, Es Teler 77 telah hadir di ratusan lokasi, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di luar negeri.
3. Ali Muharam – Makaroni Ngehe
Ali Muharam, pemuda asal Tasikmalaya, Jawa Barat, memutuskan merantau ke Jakarta demi mengubah nasib. Di ibu kota, ia menjalani beragam profesi, mulai dari office boy, penjaga toko, hingga pekerja kreatif.
Inspirasi usaha datang dari obrolan sederhana dengan ibunya yang mengingatkan pada camilan masa kecil berupa makaroni. Dari ide tersebut, Ali mulai menjual makaroni secara berkeliling menggunakan gerobak.
Dengan tambahan modal dari rekan, usahanya berkembang pesat. Kini, merek Makaroni Ngehe telah memiliki puluhan outlet yang tersebar di berbagai daerah seperti Jakarta, Jawa, hingga Bali.
4. Nurul Atik – Rocket Chicken
Nurul Atik tumbuh dalam keluarga sederhana dengan latar belakang orang tua sebagai petani dan pekerja bangunan. Kondisi ekonomi membuatnya harus bekerja sejak usia muda dan meninggalkan bangku sekolah.
Kariernya dimulai sebagai office boy di jaringan restoran cepat saji CFC. Berkat kedisiplinan dan kerja keras, ia naik jabatan hingga dipercaya menjadi manajer area.
Setelah bertahun-tahun bekerja, Nurul mencoba membangun usaha ayam goreng sendiri. Meski sempat gagal karena konflik bisnis, ia tidak menyerah. Usaha keduanya dengan merek Rocket Chicken justru berkembang pesat dan mampu membuka lapangan pekerjaan bagi banyak orang.
5. Yoyok Hery Wahyono – Sambal SS
Sebelum terjun ke dunia kuliner, Yoyok Hery Wahyono sempat menjalankan bisnis event organizer di Yogyakarta. Namun ketatnya persaingan membuat usaha tersebut harus dihentikan.
Ia kemudian melihat peluang besar pada makanan pedas yang digemari masyarakat. Bersama rekannya, Yoyok mendirikan Warung Spesial Sambal (SS) dengan konsep sederhana berupa warung tenda.
Keunikan Sambal SS terletak pada ragam pilihan sambal yang ditawarkan. Konsep ini sukses menarik perhatian konsumen dan mendorong ekspansi usaha ke berbagai kota, bahkan hingga ke luar negeri.
6. Aliuyanto – Solaria
Aliuyanto memulai karier sebagai pegawai swasta sambil menyimpan mimpi menjadi pengusaha. Selama bertahun-tahun, ia menyisihkan penghasilannya sebagai modal usaha.
Pada awal 1990-an, ia membuka restoran kecil bernama Solaria di kawasan Cikarang. Di masa awal, ia menghadapi berbagai tantangan dan kesalahan operasional.
Melalui evaluasi dan riset pasar, Aliuyanto menemukan formula yang tepat: restoran di pusat perbelanjaan dengan porsi besar dan harga terjangkau. Strategi ini membuat Solaria berkembang pesat dan kini memiliki ratusan gerai di puluhan kota di Indonesia.
7. Bob Sadino – Kemfood Group
Bob Sadino dikenal sebagai sosok pengusaha nyentrik di sektor pangan. Meski berasal dari keluarga berada, perjalanan hidupnya penuh lika-liku.
Setelah menghabiskan warisan keluarga untuk berkeliling Eropa, Bob pulang ke Indonesia dengan sisa modal terbatas. Ia sempat membuka usaha penyewaan mobil, namun bisnis tersebut tidak bertahan lama.
Berangkat dari saran sahabatnya, Bob kemudian mencoba beternak ayam. Dari usaha sederhana itulah, ia membangun bisnis pangan terpadu yang kini dikenal melalui merek Kemfood, Kemchicks, dan Kem Farm.
Bagi Niagawan, kisah para pengusaha di atas menjadi bukti bahwa keterbatasan bukanlah penghalang untuk meraih kesuksesan. Dengan ketekunan, keberanian mengambil risiko, dan inovasi, usaha kecil pun dapat tumbuh menjadi bisnis besar yang memberi dampak luas bagi perekonomian.











